Friday, April 22, 2016

CORETAN FILSAFAT

CORETAN FILSAFAT


Satu kata yang banyak di salah artikan oleh banyak orang saat ini, ketika mendengar kata filsafat orang akan berpikikir tentang ilmu yang terlalu tinggi, atau pun ilmu yang bisa menyesatkan. Sebenarnya kesalahan berpikir yang demikian terjadi karena kesalahan penafsiran dalam membaca atau mengkaji filsafat tidak secara komprehensif. 

Disini saya tidak akan coba mengajarkan tentang filsafat, tetapi mengajak kita semua untuk berfilsafat. Karena pada dasarnya, seperti yang kita ketahui bahwa manusia adalah “homo sapiens”  atau mahluk yang berpikir/akal. Hal ini berarti sepanjang sejarah perjalanan manusia, manusia selalu menggunakan akal/pikirannya untuk mencari tahu apa terjadi dengan dirinya dan apa yang terjadi diluar dirinya. Dengan pikiranlah manusia memulai peradabannya dari zaman batu menuju zaman millennium sekarang ini. Sejak zaman purba kala manusia selalu mencoba menguak tabir yang ada disekelilingnya, manusia selalu tidak puas dengan apa yang dia dapatkan ataupun yang dapat diketahuinya. Karena rasa penasaran inilah sehingga lahir pertanyaan-pertanyaan mendasar, seperti siapa aku ? dari mana asalku ? apakah ada kehidupan setelah kematian ku ? inilah pertanyaan-pertanyaan yang akan membawa manusia menuju peradabanya.

Filsafat jika kita coba mengkaji secara etimologi filsafat berasal dari bahasa yunani yaitu philos yang artinya cinta dan shopia yang artinya kebijaksanaan, jadi kata asal kata tersebut kita bisa berasumsi bahwa filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan. Sebenarnya, tidak ada satu pun definisi yang pasti mengenai filsafat, hal ini dikarenakan lahan kajian filsafat yang terlalu luas, atau pun melampaui batas-batas yang dicapai oleh ilmu pengetahuan yang hanya berlandaskan pada bukti-bukti empiris saja.

Dalam mempelajari filsafat ada dua cara yang biasa di pakai yaitu secara historis dan metodologis. Jika menggunakan pendekatan historis kita memulai filsafat dari akar sejarahnya, yaitu zaman yunani kuno-sampai postmodernisme. Sedangkan jika menggunakan pendekatan metodologis, kita bisa memulai dengan mengunakan pertanyaan-pertanyaan mendasar filsafat seperti, siapa saya ? dari mana saya berasal ? dan pertanyaan-pertanyaan mendasar lainnya.

Didalam filsafat tidaklah mempersoalkan jawaban-jawaban apa yang nanti akan didapatkan oleh manusia, melainkan apa yang “ada” ataupun apa “hakikat” dari “sesuatu itu”. Apakah “sesuatu itu” mempunyai “eksistensi” dan lain sebagainya. Maka dari itu dalam mempelajari filsafat kita harus mempersoalkan cara-cara atau metode-metode yang dipakai dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hal ini lah yang membuat banyak orang beranggapan filsafat hanya akan membawa seseorang kepada kesesatan berpikir karena pendekatan yang digunakan kemungkinan keliru.

Dizaman modern ini manusia sudah tidak merenungi hal-hal mendasar dalam kehidupannya, manusia telah terbuai dengan pekerjaan-pekerjaannya dengan kesenangan-kesenangannya, sibuk dengan urusan-urusannya sendiri sehingga ia pun lupa untuk apa sebenarnya ia diciptakan, apa makna sebenarnya dalam hidupnya. filsafat tidak mengajarkanmu bagaimana cara menjalani hidupmu tetapi filsafat mengajarimu apa sebenarnya arti cinta dan kebijaksanaan dalam hidup. Inilah yang dimaksud dengan cinta akan kebijaksanaan, bahwa manusia yang menjalani hidupnya dengan penuh cinta terhadap sesama, manusia yang menggunakan kebijaksanaannya dalam menjalani hidupnya lah yang di maksud oleh filsafat.

Semoga dengan adanya tulisan ini kita coba membuka pikiran kita sejenak untuk kembali merenungi kembali hal-hal mendasar dalam kehidupan kita dengan penuh kebijaksanaan dan cinta kasih. Terakhir dari saya mengutip kalimatnya seorang filsuf Yunani “Saya tidak dapat mengajar apapun ke siapapun. Saya hanya bisa membuat mereka berpikir”

Share:

4 comments: