CORETAN FILSAFAT
Satu kata yang banyak
di salah artikan oleh banyak orang saat ini, ketika mendengar kata filsafat
orang akan berpikikir tentang ilmu yang terlalu tinggi, atau pun ilmu yang bisa
menyesatkan. Sebenarnya kesalahan berpikir yang demikian terjadi karena
kesalahan penafsiran dalam membaca atau mengkaji filsafat tidak secara komprehensif.
Disini saya tidak akan
coba mengajarkan tentang filsafat, tetapi mengajak kita semua untuk
berfilsafat. Karena pada dasarnya, seperti yang kita ketahui bahwa manusia
adalah “homo sapiens” atau mahluk yang berpikir/akal. Hal ini
berarti sepanjang sejarah perjalanan manusia, manusia selalu menggunakan
akal/pikirannya untuk mencari tahu apa terjadi dengan dirinya dan apa yang terjadi
diluar dirinya. Dengan pikiranlah manusia memulai peradabannya dari zaman batu
menuju zaman millennium sekarang ini. Sejak zaman purba kala manusia selalu mencoba
menguak tabir yang ada disekelilingnya, manusia selalu tidak puas dengan apa
yang dia dapatkan ataupun yang dapat diketahuinya. Karena rasa penasaran inilah
sehingga lahir pertanyaan-pertanyaan mendasar, seperti siapa aku ? dari mana
asalku ? apakah ada kehidupan setelah kematian ku ? inilah
pertanyaan-pertanyaan yang akan membawa manusia menuju peradabanya.
Filsafat jika kita coba
mengkaji secara etimologi filsafat berasal dari bahasa yunani yaitu philos yang artinya cinta dan shopia yang artinya kebijaksanaan, jadi
kata asal kata tersebut kita bisa berasumsi bahwa filsafat adalah cinta akan
kebijaksanaan. Sebenarnya, tidak ada satu pun definisi yang pasti mengenai
filsafat, hal ini dikarenakan lahan kajian filsafat yang terlalu luas, atau pun
melampaui batas-batas yang dicapai oleh ilmu pengetahuan yang hanya
berlandaskan pada bukti-bukti empiris saja.
Dalam mempelajari
filsafat ada dua cara yang biasa di pakai yaitu secara historis dan metodologis.
Jika menggunakan pendekatan historis kita memulai filsafat dari akar
sejarahnya, yaitu zaman yunani kuno-sampai postmodernisme. Sedangkan jika
menggunakan pendekatan metodologis, kita bisa memulai dengan mengunakan
pertanyaan-pertanyaan mendasar filsafat seperti, siapa saya ? dari mana saya
berasal ? dan pertanyaan-pertanyaan mendasar lainnya.
Didalam filsafat tidaklah
mempersoalkan jawaban-jawaban apa yang nanti akan didapatkan oleh manusia,
melainkan apa yang “ada” ataupun apa “hakikat” dari “sesuatu itu”. Apakah “sesuatu
itu” mempunyai “eksistensi” dan lain sebagainya. Maka dari itu dalam
mempelajari filsafat kita harus mempersoalkan cara-cara atau metode-metode yang
dipakai dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hal ini lah yang membuat
banyak orang beranggapan filsafat hanya akan membawa seseorang kepada kesesatan
berpikir karena pendekatan yang digunakan kemungkinan keliru.
Dizaman modern ini manusia
sudah tidak merenungi hal-hal mendasar dalam kehidupannya, manusia telah terbuai
dengan pekerjaan-pekerjaannya dengan kesenangan-kesenangannya, sibuk dengan
urusan-urusannya sendiri sehingga ia pun lupa untuk apa sebenarnya ia
diciptakan, apa makna sebenarnya dalam hidupnya. filsafat tidak mengajarkanmu
bagaimana cara menjalani hidupmu tetapi filsafat mengajarimu apa sebenarnya
arti cinta dan kebijaksanaan dalam hidup. Inilah yang dimaksud dengan cinta
akan kebijaksanaan, bahwa manusia yang menjalani hidupnya dengan penuh cinta
terhadap sesama, manusia yang menggunakan kebijaksanaannya dalam menjalani
hidupnya lah yang di maksud oleh filsafat.
Semoga dengan adanya
tulisan ini kita coba membuka pikiran kita sejenak untuk kembali merenungi
kembali hal-hal mendasar dalam kehidupan kita dengan penuh kebijaksanaan dan
cinta kasih. Terakhir dari saya mengutip kalimatnya seorang filsuf Yunani “Saya
tidak dapat mengajar apapun ke siapapun. Saya hanya bisa membuat mereka
berpikir”

jelas memang,,,
ReplyDeletejlas,,,
ReplyDeletejelass,,
ReplyDeleteAAoo baraaat
ReplyDelete